#1 - Takbirratul Ihram

Ustadz Badru Salam, Lc
Sumber: SAFDAH TV

#2 - Cara Meletakkan Tangan Ketika Shalat

Ustadz Badru Salam, Lc
Sumber: SAFDAH TV

#3 - Membaca Doa Istiftah

Ustadz Badru Salam, Lc
Sumber: SAFDAH TV

#4 - Membaca Ta'awudz

Ustadz Badru Salam, Lc
Sumber: SAFDAH TV

#5 - Membaca Al-Fatihah

Ustadz Badru Salam, Lc
Sumber: SAFDAH TV

#6 - Hukum Membaca Al-Fatihah Bagi Makmum

Ustadz Badru Salam, Lc
Sumber: SAFDAH TV

#7 - Membaca Amin

Ustadz Badru Salam, Lc
Sumber: SAFDAH TV

#8 - Disunnahkan Membaca Surat

Ustadz Badru Salam, Lc
Sumber: SAFDAH TV

#9 - Ruku Dan Bacaannya

Ustadz Badru Salam, Lc
Sumber: SAFDAH TV

#10 - I'tidal Bangun Dari Ruku'

Ustadz Badru Salam, Lc
Sumber: SAFDAH TV

#11 - Mengangkat Tangan Ketika Hendak Sujud

Ustadz Badru Salam, Lc
Sumber: SAFDAH TV

#12 - Cara Turun Untuk Sujud

Ustadz Badru Salam, Lc
Sumber: SAFDAH TV

#13 - Tata Cara Sujud

Ustadz Badru Salam, Lc
Sumber: SAFDAH TV

#14 - Duduk Diantara Dua Sujud

Ustadz Badru Salam, Lc
Sumber: SAFDAH TV

#15 - Posisi Tangan di Duduk Diantara 2 Sujud

Ustadz Badru Salam, Lc
Sumber: SAFDAH TV

#16 - Bacaan Ketika Duduk Diantara Dua Sujud

Ustadz Badru Salam, Lc
Sumber: SAFDAH TV

#17 - Duduk Sejenak Ketika Akan Bangkit Berdiri

Ustadz Badru Salam, Lc
Sumber: SAFDAH TV

#18 - Cara Bangkit ke Raka'at Berikutnya

Ustadz Badru Salam, Lc
Sumber: SAFDAH TV

#19 - Tahiyat Dan Hukum Menggerakkan Jari

Ustadz Badru Salam, Lc
Sumber: SAFDAH TV

#20 - Cara Menggerakkan Jari Ketika Tahiyat

Ustadz Badru Salam, Lc
Sumber: SAFDAH TV

#21 - Bacaan Ketika Tahiyat

Ustadz Badru Salam, Lc
Sumber: SAFDAH TV

#22 - Membaca Shalawat

Ustadz Badru Salam, Lc
Sumber: SAFDAH TV

#23 - Berdoa & Berlindung dari 4 Perkara

Ustadz Badru Salam, Lc
Sumber: SAFDAH TV

#24 - Cara Salam Dan Lafadznya

Ustadz Badru Salam, Lc
Sumber: SAFDAH TV

#25 - Dzikir Setelah Shalat

Ustadz Badru Salam, Lc
Sumber: SAFDAH TV

#26 - Hukum Langsung Berdoa Setelah Shalat

Ustadz Badru Salam, Lc
Sumber: SAFDAH TV

[ 15 ] Tanya - Jawab Seputar Shalat

Sumber: konsultasisyariah.com

Jika kita melaksanakan shalat maghrib maupun isya sendirian, apakah dianjurkan untuk mengeraskan bacaan?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca al-fatihah dan surat setelahnya dengan keras pada dua rakaat pertama shalat maghrib, dua rakaat pertama shalat isya, dan shalat subuh. Dan ini berdasarkan riwayat secara turun-temurun dari generasi ke generasi, sebagaimana keterangan an-Nawawi dalam al-Majmu’ (3/389)

Demikian pula, dianjurkan bagi imam mengeraskan bacaan ketika shalat jumat, shalat id, istisqa, dan shalat gerhana. (HR. Bukhari)

Sehingga anjuran ini berlaku bagi umatnya, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِى أُصَلِّى

“Lakukanlah shalat sebagaimana kalian melihatku shalat.” (HR. Bukhari 631 dan yang lainnya).

Bagaimana jika shalat sendirian?

Dr. Abdul Karim Zaidan mengatakan,

ويجهر بقراءته في الركعتين الأوليين من المغرب والعشاء وفي فريضة الصبح ، ويسر في الركعة الثالثة من المغرب وفي الركعتين الأخيرتين من صلاة العشاء ، وهذا الإسرار والجهر في القراءة في موضعه مستحب في حق المنفرد عند الإمام الشافعي وغيره ، وقال الحنابلة : للمنفرد الخيار في الجهر في موضعه ، فإن شاء جهر وإن شاء خافت

Dianjurkan mengeraskan bacaan di dua rakaat pertama shalat maghrib, dua rakaat pertama shalat isya, dan shalat subuh. Dan memelankan bacaan di rakaat ketiga shalat maghrib dan dua rakaat terakhir shalat isya. Anjuran untuk mengeraskan atau memelankan bacaan ini berlaku bagi orang yang shalat sendirian menurut Imam as-Syafi’i dan yang lainnya. Sementara menurut Hambali, bagi orang yang shalat jahriyah sendirian, dia memiliki pilihan, boleh mengeraskan atau memelankan bacaan. (al-Mufashal li Ahkam al-Mar’ah, hlm. 220)

Keterangan yang semisal juga disampaikan Imam Ibnu Baz – rahimahullah –,

الأفضل الجهر في المغرب والعشاء والفجر، الأفضل الجهر وإن كنت وحدك كالمريض، وهكذا المرأة تقرأ جهراً في المغرب والعشاء والفجر

Yang afdhal, mengeraskan bacaan ketika shalat maghrib, isya dan subuh. Yang afdhal dikeraskan, meskipun anda shalat sendirian, seperti orang yang sedang sakit. Demikian pula wanita, dia bisa membaca dengan keras untuk shalat maghrib, isya dan subuh. (binbaz.org.sa/fatwas/8628/حكم-الجهر-بالقراءة-لمن-صلى-منفردا-صلاة-جهرية)

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Apakah ketika kita melakukan jamak shalat, kita tetap disyariatkan mengerjakan shalat rawatib bakdiyah dan qabliyah? Lalu bagaimana tata cara urutannya?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Orang yang melakukan shalat jamak ada 2:

[1] Musafir

[2] Orang yang mukim

Bagi musafir yang melakukan jamak, tidak perlu melakukan shalat rawatib. Karena musafir yang melakukan jamak, dia akan meng-qashar shalatnya. Misalnya, jamak dzuhur dengan asar, maka musafir akan meng-qashar shalat asar. Jamak maghrib dengan isya’, musafir akan meng-qashar shalat isya’nya.

Sementara jamak bagi mukim, baik karena sebab hujan, sakit atau sebab lainnya, dilakukan tanpa qashar. Sehingga tetap disyariatkan untuk melakukan shalat rawatib.

Lalu bagaimana cara shalat rawatib bagi orang yang menjamak ketika mukim?

Kita simak beberapa keterangan ulama yang menjelaskan urutan dan tata caranya, sebagai berikut,

[Pertama] Keterangan An-Nawawi

Dalam kitabnya – Raudhah at-Thalibin  – beliau menjelaskan teknis jamak dan shalat rawatib bagi orang yang mukim,

في جمع العشاء والمغرب يصلي الفريضتين ثم سنة المغرب ثم سنة العشاء ثم الوتر .وأما في الظهر : فالصواب الذي قاله المحققون أنه يصلي سنة الظهر التي قبلها ثم يصلي الظهر ثم العصر ثم سنة الظهر التي بعدها ثم سنة العصر

Untuk jamak isya dan maghrib, yang dilakukan adalah mengerjakan kedua shalat wajib (maghrib dan isya) terlebih dahulu, kemudian sunah bakdiyah maghrib, kemudian sunah bakdiyah isya, kemudian witir. Sementara untuk jamak shalat dzuhur, yang benar adalah keterangan para ulama peneliti (ahlu Tahqiq), yaitu dengan cara melaksanakan shalat sunah qabliyah dzuhur, kemudian shalat dzuhur, kemudian shalat asar, kemudian shalat bakdiyah dzuhur, kemudian sunah qabliyah asar. (Raudhah at-Thalibin, 1/402).

[kedua] Keterangan Imam Zakariya al-Anshari – ulama Syafiiyah –,

وإن جمع تقديما بل أو تأخيرا في الظهر والعصر صلى سنة الظهر التي قبلها ثم الفريضتين الظهر ثم العصر ثم باقي السنن مرتبة أي سنة الظهر التي بعدها ثم سنة العصر وفي المغرب والعشاء يصلي الفريضتين ثم السنن مرتبة سنة المغرب ثم سنة العشاء ثم الوتر

Jika ada orang yang melakukan jamak taqdim atau ta’khir untuk shalat dzuhur dan asar, maka yang dia lakukan adalah shalat sunah qabliyah dzuhur, kemudian shalat dzuhur dan asar, kemudian shalat sunah rawatib lainnya secara berurutan, yaitu shalat sunah bakdiyah dzuhur, kemudian sunah qabliyah asar.

Untuk maghrib dan isya, dia kerjakan shalat maghrib dan isya, kemudian shalat sunah setelahnya secara berurutan, shalat sunah bakdiyah maghrib, kemudian sunah bakdiyah isya, kemudian witir. (Asna al-Mathalib, 1/245)

[Ketiga] Keterangan Ibnu Qudamah

وإذا جمع في وقت الأولى فله أن يصلي سنة الثانية منهما ويوتر قبل دخول وقت الثانية لأن سنتها تابعة لها فيتبعها في فعلها ووقتها والوتر وقته ما بين صلاة العشاء إلى صلاة الصبح وقد صلى العشاء فدخل وقته

Jika ada orang telah melakukan jamak taqdim (maghrib dan isya), selanjutnya dia bisa melakukan shalat sunah rawatib keduanya (bakdiyah maghrib dan isya), kemudian melakukan shalat witir (meskipun) belum masuk waktu shalat isya. Karena shalat sunah witir mengikuti shalat isya. Sehingga waktu dan pelaksanaannya mengikuti pelaksanaan shalat isya. Sementara witir waktunya antara shalat isya sampai subuh. Dan dia melaksanakan shalat isya, sehingga telah masuk waktunya. (al-Mughni, 2/124).

[Keempat] keterangan al-Mardawi dalam al-Inshaf,

يصلي سنة الظهر بعد صلاة العصر من غير كراهة قاله أكثر الأصحاب

Orang yang melakukan jamak dzuhur dengan asar maka dia mengerjakan shalat sunah bakdiyah dzuhur setelah shalat asar, dan tidak makruh. Ini merupakan pendapat mayoritas hambali. (al-Inshaf, 2/241).

InsyaaAllah penjelasan mereka sudah cukup jelas

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Ada orang yang tidak tahu bagaimana cara wudhu yang benar selama tahunan, misalnya tidak mengusap kepala, lalu dia belajar agama, sehingga dia tahu, wudhunya salah, apakah wajib baginya untuk mengganti shalatnya di masa silam?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Kami kutipkan keterangan Syaikhul Islam yang dicantumkan dalam al-Fatawa al-Kubro,

والصحيح في جميع هذه المسائل، عدم وجوب الإعادة؛ لأن الله عفا عن الخطإ والنسيان، ولأنه قال: {وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا} [الإسراء: 15]،

Yang benar dalam semua masalah ini, orang yang tidak tahu cara shalat yang benar, tidak wajib mengulang. Karena Allah mengampuni kesalahan karena tidak sengaja atau lupa. Dan Allah juga berfirman,

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّى نَبْعَثَ رَسُولًا

“Aku tidak akan memberikan siksa sampai Aku mengutus seorang rasul.” (al-Isra’: 15)

Beliau melanjutkan,

فمن لم يبلغه أمر الرسول في شيء معين، لم يَثْبُت حكم وجوبه عليه، ولهذا؛ لم يأمر النبي – صلى الله عليه وسلم – عمر وعمارًا – لمَّا أجنبا – فلم يصل عمر وصلى عمار بالتمرغ – أن يعيد واحد منهما،

Karena itu, siapa yang belum mendengar perintah Rasul dalam satu masalah tertentu, maka tidak berlaku hukum wajib untuk perbuatan itu. Untuk itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan Umar dan Ammar – ketika keduanya junub – untuk mengulang shalat. Sementara ketika junub, Umar tidak shalat dan Ammar bergulung-gulung di tanah untuk tayamum.

وكذلك لم يأمر أبا ذر بالإعادة، لمَّا كان يُجنِب ويمكث أيامًا لا يصلي، وكذلك لم يأمر من أكل من الصحابة – حتى يتبين له الحبل الأبيض من الحبل الأسود – بالقضاء، كما لم يأمر من صلى إلى بيت المقدس – قبل بلوغ النسخ لهم – بالقضاء.

Demikian pula, beliau tidak memerintahkan Abu Dzar untuk mengganti shalat, ketika beliau junub dan tidak shalat selama beberapa hari. Demikian pula, ada sahabat yang makan sahur sampai batas hingga terlihat benang putih dan benang hitam setelah agak siangan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan dia untuk mengganti puasanya. Sebagaimana orang yang shalat menghadap ke Baitul Maqdis – sebelum sampainya berita nasakh – mereka tidak diperintahkan untuk mengganti shalatnya. (al-Fatawa al-Kubro, 2/50).

Di tempat yang lain, Syaikhul Islam menjelaskan bahwa orang yang shalatnya batal karena tidak tahu, maka dia punya kewajiban untuk mengulang shalat yang waktunya masih ada. Sementara shalat-shalat yang batal di masa silam, tidak perlu dia ganti.

Syaikhul Islam menjelaskan,

وأما من لم يعلم الوجوب فإذا علمه صلى صلاة الوقت وما بعدها ولا إعادة عليه . كما ثبت في الصحيحين أن النبي صلى الله عليه وسلم قال للأعرابي المسيء في صلاته : { ارجع فصل فإنك لم تصل قال : والذي بعثك بالحق لا أحسن غير هذا فعلمني ما يجزيني في صلاتي فعلمه صلى الله عليه وسلم } وقد أمره بإعادة صلاة الوقت ولم يأمره بإعادة ما مضى من الصلاة مع قوله : ” لا أحسن غير هذا ” .

Orang yang tidak mengetahui kewajiban dalam shalat, lalu dia mengetahuinya maka dia harus mengulang shalat yang waktunya masih ada, dan tidak ada kewajiban untuk mengulang yang dulu. Sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari & Muslim bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan orang badui yang shalatnya batal, “Ulangi shalatmua, karena shalatmu batal.”

Si Badui ini mengatakan,

‘Demi Dzat yang mengutusmu dengan benar, saya tidak bisa shalat yang lebih baik dari ini, karena itu ajarilah aku.’ Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarinya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan badui ini mengulangi shalat yang waktunya masih ada, dan tidak memerintahkan untuk mengganti shalat di masa silam, padahal dia tidak bisa shalat lebih baik dari itu. (Majmu’ al-Fatawa, 23/37).

Karena itu, orang yang salah dalam wudhu, sampai pada derajat batal karena tidak tahu, maka ketika dia tahu, dia harus mengulang wudhu dan mengulang shalat yang waktunya masih ada. Sementara shalat-shalat yang dia kerjakan dengan wudhu yang salah di masa silam, tidak perlu diganti.

Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Bismillah, Apa yang sebaiknya kita lakukan ketika sedang Shalat Sunnah tetapi ditepuk (menjadi imam) oleh jamaah yang baru datang ?

Jawaban:

Saudara/Saudari penanya yang kami muliakan, Semoga Allah ﷻ selalu menjaga kita semua dengan bimbingan hidayah-Nya. Untaian kalimat Shalawat dan Salam semoga Allah ﷻ sampaikan kepada Rasul-Nya ﷺ, keluarga beliau, para sahabat beliau dan seluruh ummat yang mengikuti Sunnah-sunnah beliau sampai hari kiamat.

Keadaan seperti ini pernah dialami langsung oleh Rasulullah ﷺ yang bisa menjadi pelajaran untuk kaum muslimin, yaitu ketika Rasulullah ﷺ sedang melakukan sholat sunnah (Sholat malam) di rumah beliau, kemudian datanglah sepupu beliau yaitu Ibnu Abbas rhadiyallahu anhu untuk menjadi makmum, sebagaimana dalam hadits yang dikabarkan oleh ibnu Abbas :

ثم قام يصلي فجئت فقمت إلى جنبه فقمت عن يساره, قال فأخذني فأقامني عن يمينه

“Kemudian beliau melakukan shalat, dan saya pun ikut shalat bersama beliau dengan berdiri di sebelah kirinya, Namun beliau memegang dan memindahkanku ke sebelah kananya” (HR. Muslim : 1279).

Sehingga dalam hal ini dibolehkan bagi siapa yang datang untuk bermakmum kepada seseorang yang sedang melaksanakan sholat secara sendiri, dan yang sedang sholat pun boleh memposisikan dirinya sebagai imam.

Namun, tentunya dalam hadits tersebut, Rasulullah ﷺ dan Ibnu Abbas melakukan sholat yang sama jenisnya, yaitu sama-sama sholat sunnah, sehingga bagaimana jika seseorang sedang melakukan sholat sunnah tiba-tiba datang orang lain yang ingin bermakmum di belakngnya padahal ia akan melakukan sholat fardhu ?

Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat, sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Ustaimin yang artinya:

“Ada yang mengatakan tidak boleh bagi seseorang yang melakukan sholat fardhu bermakmum di belakang seseorang yang melakukan sholat sunnah, karena tidak mungkin sesuatu yang derajatnya lebih tinggi berada di belakang yang derajatnya lebih rendah, sedangkan Sholat Fardhu derajatnya di atas sholat sunnah, bagaimana mungkin seseorang yang melakukan sholat sunnah menjadi imam bagi orang yang melakukan sholat fardhu. Dan Di antara para ulama ada juga yang mengatakan bolehnya seseorang yang melakukan sholat fardhu bermakmum kepada yang melakukan sholat sunnah, dan inilah pendapat yang Rajih (kuat)”. (www.binothaimeen.net/content/9074)

Beliau merajihkan pendapat yang membolehkan dengan dalil bahwa Muadz bin Jabal rhadiyallahu ‘anhu pernah suatu ketika sholat Isya bersama Nabi ﷺ secara berjamaah, kemudian Muadz pergi menuju kaumnya untuk mengimami kaumnya melaksanakan sholat Isya tersebut, sedangkan Muadz menjadikan sholatnya ketika menjadi imam tersebut sebagai sholat sunnah, dan Nabi ﷺ tidak mengingkari hal tersebut, sehingga berbeda niat dan jenis sholatnya Muadz rhadiyallahu ‘anhu dengan sholat kaumnya. (lihat Hadits Riwayat Bukhari nomor: 5641 dan Muslim nomor: 711).

Pertanyaan serupa yaitu: Jika seseorang sedang sholat sunnah, kemudian datang seseorang bermakmum kepadanya apakah ini dibolehkan ?” pernah diajukan kepada Syaikh Muhammad bin Sholeh al-Ustaimin :

فأجاب فضيلته بقوله: نعم يجوز ذلك, فإذا دخل معه القادم نوى الجماعة, ولا ينبغي له أن يأبى فيحرم نفسه ويحرم الداخل ثواب الجماعة, وقد ثبت أن النبي صلي الله عليه وسلم قام يصلي من الليل وحده فجاء ابن عباس – رضي الله عنهما – فصلى معه ,وما جاز في النفل جاز في الفرض؛ لأن الأصل تساوي أحكامهما إلا بدليل يدل على الخصوصية

“Maka Syaikh menjawab: Iya hal tersebut dibolehkan, apabila seseorang sholat sunnah sendirian kemudian datang orang lain berniat sholat berjamaah maka tidak sepantasnya ia menghalangi dirinya dan orang yang datang untuk mendapatkan pahala sholat berjamaah, dan telah disebutkan bahwa suatu ketika Nabi ﷺ pernah sholat malam sendirian, maka Ibnu Abbas rhadiyallahu ‘anhuma datang dan bermakmum kepada Nabi ﷺ. Dan apapun yang dibolehkan pada sholat sunnah maka hal yang sama pun dibolehkan pada sholat fardhu, karena pada dasarnya adanya kesamaan hukum antara keduanya kecuali jika ada dalil yang mengkhususkan.” (Majmu’ Fatawa wa Rosail al-Utsaimin: 15/171).

Maka, dengan demikian sebaiknya sikap kita adalah untuk mempersilahkan siapapun yang datang untuk bermakmum kepada kita tanpa menolaknya walaupun berbeda jenis antara sholat kita dengan sholat orang yang datang tersebut, sehingga kita tetap melanjutlkan sholat sunnah tersebut sampai selesai.

Wallahu A’lam.

Dijawab Oleh Ustadz Hafzan Elhadi, Lc. M.Kom

(Alumni Fakultas Syari’ah Universitas Imam Muhammad ibn Saud Al Islamiyyah, Cab. Lipia Jakarta)

Suara wanita aurat bukan ya?

Ketika sholat jamaah saya mendengar wanita yang keluar suaranya sangat keras membetulkan bacaan imam shalat.

Bagaimana hukumnya?

Jawaban:

Bismillah, Alhamdulillah wasshalaatu wassalaamu ‘alaa rasuulillaah. ‘Ammaa ba’du;

Ketika imam terlupa atau tersalah dalam bacaannya maka disyariatkan bagi makmum untuk membenarkannya.

Diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu:

«أَنَّ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – صَلَّى صَلَاةً فَقَرَأَ فِيهَا فَلَبَسَ عَلَيْهِ، فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ لِأبِي: أَصْلَيْت مَعَنَا؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَمَا مَنَعَك»

Bahwasanya dahulu Nabi ﷺ pada sebuah shalat yang beliau kerjakan, beliau membaca (ayat) didalamnya lalu terjadi keraguan pada bacaan itu. Maka setelah shalat beliau berkata kepada ayahku (Umar): apakah kamu tadi shalat bersama kita? Umar menjawab; Iya. Beliau ﷺ berkata; lalu apa yang menghalangimu (dari membenarkan bacaanku)?. (HR. Abu Dawud)

Berkata Al Imam Asy-Syaukani (1250 H) Rahimahullah:

والأدلة قد دلت على مشروعية الفتح مطلقا، فعند نسيان الإمام الآية في القراءة الجهرية يكون الفتح عليه بتذكيره تلك الآية، وعند نسيانه لغيرها من الأركان يكون الفتح بالتسبيح للرجال والتصفيق للنساء.

Dan dalil-dalil ini menunjukkan bahwa membenarkan keluputan imam disyariatkan secara mutlak. Ketika imam terlupa sebuah ayat dalam bacaan Jahriyah maka membenarkannya dengan cara mengingatkan ayat tersebut. Dan ketika terlupa pada selain bacaan (gerakan) dari rukun-rukun (shalat) maka cara membenarkannya adalah dengan cara bertasbih bagi laki-laki dan menepukkan tangan bagi wanita. (Nailul Authar: 2/380)

Hal ini hukumnya wajib apabila berakibat pada sah atau tidaknya shalat. Seperti jika kesalahan terjadi pada surat Al-fatihah. Atau apabila kesalahan tersebut merubah makna sebuah ayat.

Dan syariat ini mencakup laki-laki maupun perempuan. Jika seorang wanita bermakmum kepada suaminya atau mahramnya dan tidak ada orang ajnabi (bukan mahram) maka boleh baginya untuk membenarkan bacaannya.

Adapun ketika shalat berjamaah di masjid –misalnya- dimana terdapat orang-orang yang bukan mahram maka tidak selayaknya untuk membenarkan bacaan imam kecuali jika tidak ada makmum laki-laki yang mengkoreksinya. Tentunya dengan suara yang biasa, tidak mendayu-dayu sehingga tidak menimbulkan fitnah bagi laki-laki.

Syaikh Bin Baz (1420 H) Rahimahullah beliau ditanya:

Apabila imam tersalah dalam bacaannya dan tidak ada satupun dari kalangan laki-laki yang membenarkannya, maka apakah boleh bagi wanita untuk membenarkan kesalahan tersebut?

Beliau menjawab:

نعم، تنبيه تفتح عليه إن فتح عليه الرجال فالحمد لله وإلا تفتح عليه وصوتها ليس بعورة، إنما العورة التغنج والخضوع هذا هو المنهي عنه، كما قال تعالى:

Iya, wanita tersebut mengkoreksi dengan memberikan sebuah peringatan, jika ada laki-laki yang membenarkannya maka Alhamdulillah. Namun jika tidak, maka dia membenarkannya dan suaranya bukanlah aurat. Yang aurat bila berbicara dengan manja dan dilembut-lembutkan, inilah yang terlarang. Sebagaimana Firman Allah Ta’ala:

يَٰنِسَآءَ ٱلنَّبِيِّ لَسۡتُنَّ كَأَحَدٖ مِّنَ ٱلنِّسَآءِ إِنِ ٱتَّقَيۡتُنَّۚ فَلَا تَخۡضَعۡنَ بِٱلۡقَوۡلِ فَيَطۡمَعَ ٱلَّذِي فِي قَلۡبِهِۦ مَرَضٞ

Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu melembutkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya. (QS. Al-Ahzab: 32)

والخضوع: اللين والتكسر في الصوت، فيطمع الذي في قلبه مرض الشهوة، أما الصوت العادي لا بأس به ولهذا قال:

Dan Khudhu’ (maknanya): lemah lembutnya suara. Sehingga orang yang didalam hatinya terdapat penyakit syahwat berkeinginan buruk. Adapun suara yang biasa maka tidaklah mengapa. Oleh sebab itu Allah berfirman:

وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا

Dan ucapkanlah perkataan yang baik. (QS. Al-Ahzab: 32)

يعني: قولاً ليس فيه فحش وعنف وليس فيه تغنج ولا تكسر ولا خضوع، بل بين ذلك قولاً عادياً، فتفتح عليه بكلام عادي ليس فيه تكسر وخضوع وليس فيه عنف وشدة، ولكن القول المعتاد ولهذا قولاً معروفاً

Yakni perkataan yang tidak mengandung kekejian dan kekerasan, tidak manja dan tidak dilemah lembutkan. Namun antara itu yaitu perkataan yang biasa. Dia –wanita- membenarkan bacaan imam dengan ucapan yang tidak mengandung kelemah lembutan dan tidak mengandung kekerasan dan kekasaran, akan tetapi ucapan yang biasa. oleh karenanya disebut dengan ucapan yang baik.

المقصود: أنها لا تمتنع من قول الحق من أجل قول بعض الناس: إن صوتها عورة، لا ليس بعورة، فالصوت المجرد ليس بعورة، كان النساء يتكلمن مع النبي ﷺ ويسألنه ومع الصحابة ويخاطبهن ويخاطبونه ولم يقل: إن أصواتكن عورة، وقد حضر معهن ذات يوم جمعهن وعلمهن وأرشدهن وأجاب عن أسئلتهن عليه الصلاة والسلام، هذا أمر معروف وإنما المنكر الخضوع الذي يسبب الفتنة بها أو يظن بها السوء من أجله، أما القول العادي فلا بأس به. نعم.

Maksudnya; tidaklah seorang wanita terlarang untuk menyuarakan kebenaran hanya karena ucapan sebagian orang; bahwa suaranya adalah aurat. Tidak, suaranya bukanlah aurat. Sekedar suara bukanlah aurat. Dahulu para wanita mereka bercakap dengan Nabi ﷺ dan bertanya kepadanya. Juga bercakap dengan para sahabat. Nabi ﷺ berbicara dengan mereka begitu juga sebaliknya, Nabi pun tidak mengatakan; suara kalian adalah aurat. Pada suatu hari sekelompok mereka datang lalu Nabi ﷺ memberikan pelajaran dan bimbingan kepada mereka. Nabi ﷺ juga menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Ini adalah hal yang baik adapun yang terlarang adalah melemah lembutkan suara yang dapat menimbulkan fitnah atau menyebabkan persangkaan yang buruk. Adapun perkataan yang biasa maka tidaklah mengapa. https://binbaz.org.sa/

Dan dalam masalah ini hendaknya diperhatikan beberapa hal, seperti;

1) Hendaknya seorang yang tepat dibelakang imam adalah orang yang berilmu dan memiliki hafalan alqur’an. Sehingga bisa membenarkan kesalahan imam. jika tidak,

2) Yang berhak membenarkan bacaan imam adalah yang terdekat dengannya.

3) Tidak dibenarkan bagi para makmum untuk rame-rame membenarkan bacaan imam. Karena hal itu hanya akan menimbulkan kerancauan dan bercampur aduknya suara sehingga tidak terdengar dengan jelas. Akan tetapi cukup satu orang yang terdekat dengan imam.

4) Hendaknya tidak terburu-buru untuk membenarkan bacaan imam. Karena munkin saja imam akan segera membenarkan bacaannya terlebih jika ia adalah seorang hafidz alqur’an.

5) Hendaknya dengan suara yang terdengar, tenang dan jelas.

6) Dan yang paling terpenting hendaknya dengan niat yang ikhlas, bukan karena riya’ atau semisalnya.

Demikian, Wallahu Ta’ala A’lam.

Dijawab oleh Ustadz Idwan Cahyana, Lc.

Ustadz, apa yang harus kami lakukan tatkala sedang shalat, sementara bayi kami menangis, apakah kami harus membatalkan salat atau bagaimana ya? Terlebih ketika salat berjamaah. Mohon penjelasannya, Ustadz.

Jawaban:

Alhamdulillaahi Rabbi-l aalamin, wa-sh sholaatu wa-s salaamu alaa asyrafi-l anbiyaa’i wa-l mursaliin, Nabiyyina Muhammad, wa alaa aalihi wa ash-haabihi ajma’iin, wa ba’d…

Ahlan wa sahlan saudaraku penanya.

Para ulama sepakat bahwa jika seseorang telah mulai melaksanakan salat fardhu, maka haram baginya untuk memutusnya/membatalkannya, tanpa ada alasan yang syar’i. Dan alasan-alasan tersebut telah disebutkan dalam sunah Nabi –shallallaahu alaihi wa sallam-, sebagaimana juga diterangkan oleh para ulama, di antaranya yaitu:

  • Untuk menyelamatkan diri dari sesuatu yang mengancam jiwanya, atau hartanya.
  • Untuk menyelamatkan orang lain dari sesuatu yang mengancam jiwanya, seperti menyelamatkan orang yang hampir tenggelam, terbakar, jatuh dari tangga, tertabrak mobil, dan yang semisalnya. (Lihat Raddu al-Muhtaar, Al-Mabsuuth, dan Kasysyaaf al-Qinaa’)

Dan uzur-uzur lain dapat kita bandingkan dengan uzur-uzur di atas, jika maknanya sesuai, maka berarti ia juga menyamai hukumnya. Para ulama menyebut ini dengan qiyas.

Adapun masalah bayi anda yang menangis, maka hukumnya dapat diketahui dari kondisi yang ada. Jika memang:

  • Tangisan tersebut dikhawatirkan membahayakannya (seperti meronta-ronta sehingga dikhawatirkan dapat terjatuh), atau disebabkan sesuatu yang membahayakannya (seperti gigitan sesuatu, atau rasa sakit tertentu). Atau…
  • Tangisannya mengganggu kekhusyukan jama’ah lain yang sedang salat, seandainya sedang berada pada situasi salat berjama’ah.
  • Tidak ada cara lain untuk mendiamkannya selain dengan membatalkan salat anda.

Maka tidak mengapa anda membatalkan salat anda.

Dan sebagai tambahan, bagi anda yang masih belum meyakini ketenangan anak ketika berada di masjid, maka sebaiknya untuk tidak membawanya ke masjid terlebih dahulu.

Bagi suami istri, jika memang mengetahui anaknya masih belum bisa anteng saat ditinggal salat, maka hendaklah salat secara bergantian, sehingga tidak perlu ada pembatalan salat ketika si anak menangis.

Dan juga untuk para imam, ketika mendengar tangisan anak, hendaklah meringankan durasi salatnya, sehingga sang ayah/ibu dapat segera menenangkan si anak tanpa harus membatalkan salatnya.

Wallaahu a’lam, semoga uraian di atas dapat menjawab pertanyaan anda.

Dijawab oleh Ustadz Ustadz Muhammad Afif Naufaldi (Mahasiswa Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah)

Apakah keutamaan salat sunah antara azan dan iqamah? Dan apakah itu hanya diperuntukkan untuk laki-laki yang salat di masjid?

Jawaban:

Wa’alaykumussalaam wa rahmatullaahi wa barokaatuh.

Alhamdulillaahi wahdah, wa-sh sholaatu wa-s salaamu alaa man laa nabiyya ba’dah, ammaa ba’du.

Ahlan wa sahlan saudaraku penanya.

Secara umum, salat sunah antara azan dan iqamat dapat digolongkan menjadi dua; Pertama sunah rawatib, dan yang kedua adalah salat sunah non rawatib.

– Adapun salat sunah antara azan dan iqamah yang tergolong rawatib, maka ia adalah:

  • 2 raka’at sebelum antara azan dan iqamat Subuh.
    Rasulullah –shallallaahu alaihi wa sallam– bersabda: “2 raka’at fajar itu lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (Aisyah –radhiyallaahu anha-, HR. Muslim)
    Aisyah –radhiyallaahu anha– juga mengatakan: “Tidak ada salat sunah/nafilah yang lebih dijaga oleh Rasulullah –shallallaahu alaihi wa sallam– melebihi salat sunah fajar.” (HR. Bukhari)
  • 4 raka’at antara azan dan iqamat Zuhur.
    Rasulullah –shallallaahu alaihi wa sallam– bersabda: “Barang siapa yang menegakkan 4 raka’at sebelum dan sesudah Zuhur, niscaya Allah akan haramkan bagi api neraka untuk melalap tubuhnya.” (Anbasah –radhiyallaahu anhu-, HR. Abu Daud, disahihkan oleh Al-Albani)
    Rasulullah –shallallaahu alaihi wa sallam– biasa menunaikan 4 raka’at ini, seraya mengatakan: “Waktu ini adalah saat dibukanya pintu-pintu langit. Dan aku suka jika ada amal salihku yang naik ke langit pada saat tersebut.” (Abdullah bin Sa’ib –radhiyallaahu anhu-. (HR. Ahmad, disahihkan oleh Al-Arna’uth)

Dan bagi mereka yang melaksanakan salat sunah rawatib ini, ada keutamaan khusus, sebagaimana Rasulullah – shallallaahu alaihi wa sallam– sabdakan:
“Barang siapa yang salat 12 raka’at dalam sehari semalam, niscaya Allah akan bangunkan untuknya sebuah rumah di surga, yaitu 4 raka’at sebelum Zuhur, 2 raka’at setelahnya, 2 raka’at setelah Magrib, 2 raka’at setelah Isya, dan 2 raka’at sebelum salat Subuh.” (Ummu Habibah –radhiyallaahu anha-, HR. Tirmidzi, disahihkan oleh Al-Albani)

– Adapun salat-salat lainnya di antara azan dan iqamat, walau ia tidak termasuk rawatib, namun melaksanakannya juga merupakan sunah.

Rasulullah – shallallaahu alaihi wa sallam– mengatakan: “Di antara setiap azan dan iqamat ada salat.” Beliau mengulanginya 3 kali, sembari mengatakan pada kali ketiga, “… bagi mereka yang ingin untuk mengerjakannya.” (Abdullah bin Mugaffal –radhiyallaahu anhu-, HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah – shallallaahu alaihi wa sallam– juga mengatakan: “Salatlah sebelum Maghrib.” Beliau mengulanginya 3 kali, sembari mengatakan pada kali ketiga, “… bagi mereka yang ingin untuk mengerjakannya.” (Abdullah Al-Muzani –radhiyallaahu anhu-, HR. Bukhari)

Sebagaimana para sahabat –radhiyallaahu anhum– juga terbiasa mengamalkannya, dan para ulama pun sepakat bahwa di setiap waktu antara azan dan iqamat disunahkan untuk salat, walau mereka berselisih pada 2 raka’at antara azan dan iqamat pada salat Magrib.

Adapun keutamaan salat antara azan dan iqamat secara khusus, maka tidak ada nas sahih dari Nabi –shallallaahu alaihi wa sallam– yang menyatakannya, namun tetap ia merupakan sunah dan kebaikan yang memiliki keutamaan umum yang sangat besar.

Allah –ta’aala– berfirman:

وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَيِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفٗا مِّنَ ٱلَّيۡلِۚ إِنَّ ٱلۡحَسَنَٰتِ يُذۡهِبۡنَ ٱلسَّيِّئَاتِۚ ذَٰلِكَ ذِكۡرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ

Dan dirikanlah salat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang hendak mengingat. (QS. Hud: 114)

Rasulullah –shallallaahu alaihi wa sallam– bersabda kepada Rabi’ah bin Ka’b Al-Aslami –radhiyallaahu anhu- ketika ia meminta kepadanya untuk dapat menyertainya di surga:

“Bantulah aku (untuk mewujudkan itu) dengan memperbanyak sujudmu (salatmu).” (HR. Muslim)

Adapun apakah wanita juga dianjurkan untuk melaksanakan semua hal di atas, maka tentu saja iya. Bukankah yang meriwayatkan hadis-hadis di atas kepada kita adalah Aisyah dan Ummu Habibah, yang keduanya merupakan istri Nabi –shallallaahu alaihi wa sallam-?

Hukum asal setiap syari’at adalah ditujukan kepada lelaki dan wanita, kecuali jika ada dalil yang mengecualikan salah satu dari keduanya dari syari’at tersebut.

Wallaahu a’lam. Semoga ini dapat menjawab pertanyaan anda.

Dijawab oleh Ustadz Ustadz Muhammad Afif Naufaldi (Mahasiswa Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah)

Jika ada imam yang dibenci makmum, apakah harus diganti? Imam dibenci karena bacaannya amburadul, tapi dia yang berkuasa di masjid itu.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Disebutkan dalam hadis dari Abu Umamah al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثَةٌ لَا تُجَاوِزُ صَلَاتُهُمْ آذَانَهُمْ : الْعَبْدُ الْآبِقُ حَتَّى يَرْجِعَ ، وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ ، وَإِمَامُ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ

Ada 3 orang yang shalatnya tidak bisa naik melebihi telinganya: budak yang lari dari tuannya sampai dia kembali, wanita yang menjalani waktu malamnya, sementara suaminya murka kepadanya, dan imam sebuah jamaah, sementara para jamaah membencinya. (HR. Turmudzi 360 dan dihasankan oleh al-Albani)

Selanjutnya, at-Turmudzi menyebutkan keterangan dari salah satu perawi hadis, yaitu Manshur, beliau bertanya kepada gurunya Hilal bin Yisaf,

فَسَأَلْنَا عَنْ أَمْرِ الإِمَامِ فَقِيلَ لَنَا إِنَّمَا عَنَى بِهَذَا أَئِمَّةً ظَلَمَةً فَأَمَّا مَنْ أَقَامَ السُّنَّةَ فَإِنَّمَا الإِثْمُ عَلَى مَنْ كَرِهَه

Kami bertanya mengenai kondisi imam yang shalatnya tidak sah. Jawaban yang kami dengar,

Yang dimaksud oleh hadis adalah para imam yang menyimpang. Adapun imam yang menegakkan sunah, maka dosanya kembali kepada orang yang membencinya. (Jami’ at-Turmudzi)

Apa sebab kebencian ini?

Keterangan Hilal bin Yisaf di atas termasuk salah satu yang menjelaskan itu. Dan dalam Aunul Ma’bud, penulis menukil penjelasan al-Khathabi

وقال الخطابي قلت يشبه أن يكون الوعيد في الرجل ليس من أهل الإمامة فيقتحم فيها ويتغلب عليها حتى يكره الناس إمامته فأما إن كان مستحقا للإمامة فاللوم على من كرهه دونه

Al-Khathabi mengatakan, yang lebih mendekati bahwa ini ancaman ini berlaku untuk orang yang tidak layak jadi imam, namun dia memaksakan diri untuk jadi imam, sehingga banyak orang tidak suka ketika dia jadi imam. Adapun orang yang berhak jadi imam, maka celaan itu kembali kepada orang yang membencinya. (Aunul Ma’bud, 2/213).

Penjelasan lainnya juga disampaikan oleh Syaikhul Islam, ketika beliau menjawab pertanyaan mengenai imam yang dibenci mayoritas makmumnya.

Jawaban Syaikhul Islam,

إنْ كَانُوا يَكْرَهُونَ هَذَا الْإِمَامَ لِأَمْرِ فِي دِينِهِ : مِثْلَ كَذِبِهِ أَوْ ظُلْمِهِ أَوْ جَهْلِهِ أَوْ بِدْعَتِهِ وَنَحْوِ ذَلِكَ ، وَيُحِبُّونَ الْآخَرَ لِأَنَّهُ أَصْلَحُ فِي دِينِهِ مِنْهُ : مِثْلَ أَنْ يَكُونَ أَصْدَقَ وَأَعْلَمَ وأدين فَإِنَّهُ يَجِبُ أَنْ يُوَلَّى عَلَيْهِمْ هَذَا الْإِمَامُ الَّذِي يُحِبُّونَهُ وَلَيْسَ لِذَلِكَ الْإِمَامِ الَّذِي يَكْرَهُونَهُ أَنْ يَؤُمَّهُمْ

Jika makmum membenci imam karena kekurangan agamanya, misalnya karena suka berdusta, suka dzalim, atau bodoh masalah agama, atau pelanggaran bid’ahnya atau alasan lainnya, dan mereka lebih menyukai orang lain untuk jadi imam, karena pertimbangan kesempurnaan agamanya, misalnya lebih jujur, lebih berilmu dan lebih sempurna agamanya, maka wajib untuk menunjuk imam yang disenangi makmum. Sementara imam yang dibenci makmum, tidak berhak untuk menjadi imam. (Majmu’ al-Fatawa, 23/373)

Berdasarkan keterangan beberapa ulama di atas, bisa kita simpulkan bahwa posisi imam yang dibenci makmumnya, sehingga menyebabkan shalatnya tidak diterima dikarenakan 2 hal:

[1]. Orang yang tidak berhak jadi imam disebabkan banyak kekurangan agama pada dirinya, namun memaksakan diri untuk jadi imam.

[2]. Orang yang memiliki penyimpangan dalam masalah agama, dan dia berkuasa di masjid itu, sehingga memaksakan diri jadi imam.

Karena itu, ketika kita menjumpai imam semacam ini, segera diusulkan ke takmir agar imam ini segera diganti. Jika tidak memungkinkan, boleh cari masjid yang lain.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

Ada dua orang yang tidak saling kenal mau shalat. Yang 1 hafalan qurannya sedikit, tetapi disuruh jadi imam. Itu bagaimana? Lalu apa syarat2 menjadi imam shalat jamaah? Syukron!

Jawaban:

Alhamdulillaahi wahdah, wa-sh sholaatu wa-s salaamu alaa man laa nabiyya ba’dah, wa ba’d…

Saudaraku penanya, ada dua permasalahan yang berbeda terkait sifat seorang imam.

Yang pertama adalah syarat-syarat sah yang wajib terpenuhi pada diri seorang imam, dan yang kedua adalah sifat-sifat aulawiyyah yang membuat seseorang lebih berhak untuk dijadikan sebagai imam.

Adapun syarat sah yang wajib terpenuhi pada seorang imam, ada 5 syarat, yaitu: islam (di antaranya selamat dari bidah yang mengkafirkan), berakal, laki-laki, kemampuan melaksanakan rukun salat (di antaranya membaca Al-Fatihah), dan dalam keadaan suci dari hadas besar maupun kecil. Kelima syarat tersebut disepakati oleh mazhab fikih yang 4, sebagaimana dapat ditemukan dalam kitab-kitab rujukan masing-masing mazhab. Maka, selama kelima syarat tersebut terpenuhi pada seseorang, maka sah saja jika ia maju menjadi imam, dan sah pula untuk salat di belakangnya

Adapun sifat-sifat aulawiyyah, yang membuat seseorang lebih berhak untuk menjadi imam, maka sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad –shallallaahu alaihi wa sallam– dalam hadis Abu Mas’ud Al-Anshari –radhiyallaahu anhu-:

يَؤُمُّ القَوْمَ أَقْرَؤُهُمِ لِكِتَابِ اللهِ، فَإِنْ كَانُوْا فِيْ القِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ، فَإِنْ كَانُوْا فِيْ السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً، فَإِنْ كَانُوْا فِيْ الهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمَا (وَفِيْ رِوَايَةٍ: سِنًّا مَكَانَ سِلْمًا)…

“Hendaklah yang mengimami suatu kaum adalah yang paling baik bacaan Alqurannya. Jika mereka semua setara dalam hal itu, maka yang paling baik wawasannya tentang sunah. Jika mereka semua setara dalam kedua hal itu, maka yang paling dahulu berhijrah. Dan jika mereka semua setara dalam semua hal itu, maka yang paling dahulu keislamannya (dalam riwayat lain: yang lebih tua usianya).” [HR. Muslim]

Kesimpulannya, sah saja jika seorang yang hafalannya lebih sedikit maju untuk menjadi imam, selama kelima syarat di atas terpenuhi pada dirinya. Namun tetap yang lebih utama adalah menerapkan urutan seperti dalam sabda Nabi Muhammad –shallallaahu alaihi wa sallam– di atas.

Dan sebagai tambahan faidah, Komite Fatwa Kerajaan Arab Saudi pernah ditanya:

“Apakah wajib bagi seseorang yang tinggal di sebuah lingkungan, untuk mencari tahu keadaan/status si imam sebelum memulai salat?”

Jawabannya adalah:

“Tidak wajib. Sah saja jika ia langsung salat sebagai makmumnya, selama tidak ada kemungkaran yang tampak jelas dari si imam. Karena kaidah asalnya adalah berprasangka baik kepada sesama muslim, hingga terjelaskan hal yang berlawanan dengan kebaikan.” (Jilid 7. Ketua: Abdul Aziz bin Baz. Anggota Komite: Abdullah bin Qu’ud, Abdullah bin Ghudayyan, dan Abdurrazzaq Afifi)

Walaahu ta’aala a’lam, wa shallallaahu alaa nabiyyinaa wa sallam.

Dijawab oleh Ustadz Ustadz Muhammad Afif Naufaldi (Mahasiswa Fakultas Hadits Universitas Islam Madinah)

Ust, apa bener wanita bercadar ktk sholat hrs lepas cadarnya? Soalnya pernah denger ada yg bilang gitu…
Mhn pencerahannya Ust…
Matur suwun.

Jawaban:

Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du.

Sholat memakai cadar bagi wanita, hukumnya makruh. Tidak sampai pada derajat haram atau membatalkan sholat.

Imam Al-Buhuti dalam Kassyaf Al-Qona’ menjelaskan,

ويكره أن تصلي في نقاب وبرقع بلا حاجة.

Makruh bagi wanita, untuk sholat memakai niqob (cadar) dan burqo’ tanpa kebutuhan. (Dikutip dari : islamweb.net)

Demikian pula keterangan dari Al – Kholil (salah seorang ulama senior dalam Mazhab Maliki) dalam Al – Majmu’, beliau menggolongkan diantara hal-hal yang dimakruhkan saat sholat adalah, memakai niqob atau cadar. (Lihat: Jauharul Iklil Syarah Mukhtashor Al – Kholil 1/60).

Dalam Al – Majmu’, Imam Nawawi rahimahullah menerangkan, bahwa makna makruh dalam hal ini adalah makruh tanzih, bukan makruh tahrim,

أنها كراهة تنزيهية لا تمنع صحة الصلاة

Yang dimaksud makruh bagi wanita sholat mengenakan cadar, adalah makruh tanzih, tidak sampai menghalangi keabsahan sholat. (Dikutip dari: islamweb.net)

Makruh tanzih adalah makruh yang kita kenal. Yaitu suatu hukum yang dampaknya jika dikerjakan tidak berdosa, jika ditinggalkan karena Allah berpahala.

Makruh tahrim adalah, makruh yang bermakna haram. Atau hukum haram yang kita kenal. Dikerjakan berdosa, ditinggalkan karena Allah berpahala.

Sehingga jika dikatakan harus melepas cadar ketika sholat, maka tidak tepat. Karena hukum makruh bandingannya adalah mustahab/sunah, bukan wajib. Jika sholat memakai cadar bagi wanita adalah makruh, maka melepasnya saat sholat hukumnya sunah.

Kemudian, suatu yang hukumnya makruh, dapat berubah menjadi mubah (boleh), saat ada kebutuhan.

Diterangkan dalam Manzumah Ushul Fiqh (susunan bait syair tentang ilmu Ushul Fiqh) karya Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah,

وكلُّ ممنوعٍ فللضرورةِ***يباحُ والمكروهُ عند الحاجةِ

Segala yang haram, menjadi mubah saat kondisi darurat.
Adapun makruh, menjadi mubah saat kondisi dibutuhkan (hajat).

Oleh karena itu, muslimah yang bercadar, boleh tetap mengenakan cadarnya ketika sholat, saat dia membutuhkan itu. Seperti, ketika dia sholat di masjid yang tidak ada tirai penutup antara tempat laki-laki dan perempuan. Kemudian ada laki-laki bukan mahram dapat melihatnya.

Kesimpulan ini senada dengan keterangan dari Ibnu Abdil Bar rahimahullah,

أجمعوا على أن على المرأة أن تكشف وجهها في الصلاة والإحرام ولأن ستر الوجه يخل بمباشرة المصلي بالجبهة والأنف ويغطي الفم، وقد نهى النبي صلى الله عليه وسلم الرجل عنه، فإن كان لحاجة كحضور أجانب فلا كراهة

Para ulama sepakat bahwa bagi wanita diperintahkan untuk membuka tutup wajahnya ketika sholat dan ihram. Karena menutup wajah dapat menghalangi tersentuhnya jidat dan hidung dengan tempat sujud, demikian pula menutupi mulut. Nabi shalallahu alaihi wa sallam pernah melarang sahabatnya yang sholat dengan menutupi mulutnya. Adapun jika dibutuhkan, seperti kehadiran laki-laki yang bukan mahram, maka tidak dimakruhkan.
(Dikutip dari : Al Mausi’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah 41/135)

Wallahua’lam bis showab.

Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori
(Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta)

Assalamu’alaikum wr.wb.
saya sedang menderita penyakit cacar lebih baik sholat di rumah atau tetap di masjid?
wassalamu’alaikum wr.wb.

Via Tanya Ustadz for Android

Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah wassholaatu wassalam ‘ala Rasulillah wa ba’du.

Sholat berjama’ah di masjid, adalah kewajiban bagi laki-laki muslim berdasarkan kesimpulan yang paling kuat (rajih) dari diskusi para ulama tentang hukum sholat berjama’ah. Ulasan selengkapnya bisa anda pelajari di:

Bagaimana Hukum Sholat Berjamaah?Mengingat ini adalah ibadah yang wajib, maka seorang tidak boleh meninggalkannya kecuali karena uzur syariat.

Apakah Sakit Menular Tergolong Uzur yang Syar’i?

Dengan memohon taufik kepada Allah, kita bisa mengetahui hukumnya melalui kajian terhadap hadis dari sahabat Jabir bin Abdullah radhiallahu anhuma berikut,
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَكَلَ ثُومًا أَوْ بَصَلًا فَلْيَعْتَزِلْنَا ، أَوْ قَالَ : فَلْيَعْتَزِلْ مَسْجِدَنَا ، وَلْيَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ

“Siapa yang makan bawang putih atau bawang merah, hendaklah ia menjauh kami.” Atau beliau berkata, “Hendaknya dia menjauh dari masjid kami dan berdiam di rumahnya.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Dari hadis di atas, sebagian ulama menyimpulkan bahwa makruh hukumnya bagi orang yang baru saja makan bawang (putih/merah) untuk menghadiri sholat berjama’ah di Masjid. Sebagian yang lain menyatakan haram.

Imam Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah menerangkan,

ولو أكله – يعني الثوم – ، ثم دخل المسجد كُره له ذلكَ . وظاهر كلامِ أحمد : أنه يحرمُ ، فإنه قال – في رواية إسماعيل بن سعيد – : إن أكل وحضر المسجدَ أثمَ

Jika seorang makan bawang, kemudian masuk masjid, dia dimakruhkan memasuki masjid. Adapun yang tampak dari pernyataan Imam Ahmad, bahwa hukum orang yang demikian adalah haram. Beliau mengatakan -sebagaimana riwayat dari Ismail bin Sa’id-, “Jika seorang makan bawang kemudian sengaja hadir di masjid, maka dia berdosa.” (Fathul Bari 5/288, karya Ibnu Rajab)

Namun pendapat yang tepat –wal’ilmu indallah– adalah
hukumnya makruh. Sebagaimana dipilih oleh Syekh Ibnu Baz rahimahullah.
(Lihat penjelasan beliau di sini :
binbaz.org.sa/audios/2450/535-من-باب-نهي-من-اكل-ثوما-او-بصلا-او-كراثا-او-غيره-مما-له-راىحة-كريهة-عن-دخول-المسجد)

Yang tersebut dalam hadis di atas, adalah aroma tidak sedap dari bawang. Ini bukan bermakna pembatasan. Namun bisa dianalogikan (qiyas) pada hal-hal yang menggangu lainnya, seperti bau rokok, bau badan dll. Bahkan para ulama menggolongkan pengganggu yang bersifat psikis termasuk yang bisa dianalogikan, seperti orang yang biasa bicara menyakitkan, berperangai jahat, sombong dll. Sebagai bentuk sanksi sosial kepada mereka.

Ibnu Abdil Bar dalam kitab At-Tamhid memberikan penjelasan,

وإذا كانت العلة في إخراجه من المسجد أنه يُتأذى به ، ففي القياس : أن كل ما يتأذى به جيرانه في المسجد بأن يكون ذرب (سليط) اللسان ، سفيهاً عليهم في المسجد ، مستطيلاً ، أو كان ذا ريحة قبيحة لسوء صناعته ، أو عاهة مؤذية كالجذام وشبهه وكل ما يتأذى به الناس إذا وجد في أحد جيران المسجد وأرادوا إخراجه عن المسجد وإبعاده عنه كان ذلك لهم ، ما كانت العلة موجودة فيه حتى تزول ، فإذا زالت كان له مراجعة المسجد

“Bila sebab (‘illah) mengeluarkannya dari masjid adalah, dapat mengganggu orang lain, maka sebab ini bisa diqiyaskan pada segala hal yang dapat mengganggu orang di sekitarnya di masjid. Misalnya ucapannya kasar, berbuat onar di masjid, angkuh, memiliki aroma tak sedap, mengidap penyakit yang berbahaya seperti kusta atau semacamnya, dan apa saja yang dapat mengganggu orang lain di sekitarnya dalam masjid. Jika para jama’ah ingin mengeluarkannya, mereka berhak untuk itu, selama sebab itu ada, sampai sebab itu hilang. Jika sebabnya telah tiada, maka dia dapat hadir kembali ke masjid.” (At-Tamhid, 6/422-423)

Ini menunjukkan, segala hal yang dapat menggangu jama’ah sholat sepatutnya dihindarkan. Apapun bentuknya. Termasuk juga penyakit yang dapat menular.

Bahkan, orang yang berpenyakit menular, memiliki dua uzur :

Pertama, dia sakit.

Yang mana ini bahaya yang ia alami dalam dirinya sendiri.

Kedua, dapat menular.

Ini bahaya yang dapat menimpa orang lain.

Nabi telah melarang orang yang sakit untuk berbaur dengan yang sehat,

لا يُورِدَنَّ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ

“Orang yang sakit janganlah membaur dengan yang sehat.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Sehingga ketidakhadirannya di masjid, dalam rangka mewujudkan maslahat berupa kesembuhannya serta mencegah bahaya (mudhorot) berupa menularnya penyakit kepada orang lain. Sebuah prinsip yang telah menjadi tujuan segala hukum dalam syari’at Islam (Maqosid As-Syari’ah).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah menjelaskan dalam Manzumah Al-Qawa’id Al-fiqhiyyah (bait-bait syair yang berisi kaidah-kaidah fikih) yang beliau susun,

الدين مبني على المصالح في جلبها و الدرء للقبائح

“Islam dibangun di atas maslahat, yaitu dalam rangka mewujudkan mashlahat atau mencegah bahaya.”

Saat ditanya pertanyaan serupa, Syaikh Dr. Sulaiman bin Wa-il At Tuwaijiri (dosen di Universitas Ummul Quro, Makkah) menjawab,

من الأعذار المسقطة للجماعة والجمعة : المرض إذا كان هذا المرض يتأخر برؤه أو كان يزداد . ومن ذلك أيضاً إذا كان من المعدي الذي يتعدى ضرره إلى الآخرين، فهذا الإنسان معذور بهذا العذر فلا تجب عليه صلاة الجماعة باعتبار المرض وباعتبار العدوى ، لأن النبي صلى الله عليه وسلم نهى من أكل ثوماً أو بصلاً أن يأتي للمسجد ؛ لئلا يؤذي الناس برائحته ، وهذا -فيما يظهر- أشد ضرراً ممن يأكل شيئاً له رائحة كريهة ، والله أعلم ، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه”

Termasuk uzur yang dapat menggugurkan kewajiban shalat berjamaah dan Jumat, adalah sakit yang jika dia tetap berjamaah kesembuhannya melambat atau justeru menambah parah. Demikian juga sakit menular yang dapat membahayakan orang lain. Maka orang yang seperti ini mendapatkan dispensasi tidak wajib shalat berjamaah, karena (1) dia sakit dan (2) penyakitnya dapat menular. Nabi telah melarang orang yang makan bawang putih atau bawang merah untuk masuk masjid. Agar tidak mengganggu orang lain dengan baunya. Sedangkan penyakit menular, tampaknya lebih berbahaya dibanding memakan makanan yang berbau tidak sedap. Wallahu a’lam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabat Beliau.” (Dikutip dari islamtoday.net).

Wallahua’lam bis showab.

***

Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori
(Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta)

Ustadz, kenapa ketika sholat berjamaah saat membaca surah tidak pakai Bismillah?

Jawaban:

Bismillah, Alhamdulillah wassholatu wassalamu ‘ala Rasuulillah, amma ba’du;

Saudara penanya – semoga Allah selalu merahmati kita semua- Membaca Basmalah disyariatkan ketika membaca surah dari awal, baik surah Al-fatihah ataupun surah yang lain kecuali surah At-Taubah. Akan tetapi ketika sholat berjamaah dan kita menjadi makmum, terkadang kita tidak mendengar imam membaca Basmalah di awal surah. Hal ini bukan berarti ketika sholat berjamaah tidaklah membaca Basmalah, hanya saja imam membacanya secara Sirr (dengan suara yang dipelankan).

Membaca Basmalah secara Sirr (suara yang dipelankan) yang kami sebutkan diatas adalah madzhab Imam Ahmad sedangkan menurut madzhab Syafi’I membaca Basmalah adalah secara Jahr (suara yang dikeraskan).

Ibnu Qudamah menyebutkan :

ولا تختلف الرواية عن أحمد أن الجهر بها غير مسنون. قال الترمذي: وعليه العمل عند أكثر أهل العلم، من أصحاب النبي – صلى الله عليه وسلم – ومن بعدهم من التابعين، منهم أبو بكر وعمر وعثمان وعلي. ذكره ابن المنذر، عن ابن مسعود، وابن الزبير، وعمار. وبه يقول الحكم وحماد، والأوزاعي، والثوري، وابن المبارك، وأصحاب الرأي.

“Dan tidak ada perbedaan riwayat dari Imam Ahmad bahwa mengeraskannya (basmalah) tidaklah disunnahkan. Berkata At-Tirmidzi; “Dan diatas pendapat tersebutlah yang menjadi amalan mayoritas ahli ilmu dari kalangan para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kalangan setelahnya dari para Tabi’in, diantaranya Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.” Dan hal itu disebutkan oleh Ibnul Mundzir dari Ibnu Mas’ud dan Ibnu Zubair serta Ammar. Dan ini yang dikatakan oleh Al-Hakam, Al-Auza’I, Ats-Tsauri dan Ibnul Mubarak serta Ashabur-ra’yi.”

Kemudian beliau melanjutkan:

ويروى عن عطاء، وطاوس، ومجاهد، وسعيد بن جبير، الجهر بها وهو مذهب الشافعي.

“Dan mengeraskannya (bacaan Basmalah) diriwayatkan dari Atha’, Thawus, Mujahid, Sa’id bin Jubair, dan inilah madzhab Imam Syafi’i.” (al-Mughni : 1/345)

Yang menjadi sebab terjadinya khilaf (perbedaan pendapat) dalam hal ini adalah adanya beberapa Hadits yang dzahirnya bertentangan satu dengan yang lain.

Diantara hadits-hadits tersebut adalah sebagai berikut:

Adapun dalil yang mendukung menjahrkan bacaan basmalah diantaranya hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu yang disebutkan didalam kitab Al-Umm;

(قال الشافعي) : وبلغني أن ابن عباس – رضي الله عنهما – كان يقول «إن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – كان يفتتح القراءة ب بسم الله الرحمن الرحيم».

(Berkata Imam Syafi’i): “Dan telah sampai kepadaku bahwa Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma dahulu beliau berkata; Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu membuka bacaannya dengan Bismillahirrahmanirrahim.” (Al-Umm :1/129)

Dan juga sebuah hadits yang dinukilkan Ibnu hajar didalam Bulughul Maram, dari Nu’aim Al-Mujmir Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata;

صَلَّيْتُ وَرَاءَ أَبِي هُرَيْرَةَ –رضي الله عنه –، فَقَرَأَ: (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) ثُمَّ قَرَأَ بِأُمِّ الْقُرْآنِ, حَتَّى إِذَا بَلَغَ: (وَلَا الضَّالِّينَ) , قَالَ: «آمِينَ» وَيَقُولُ كُلَّمَا سَجَدَ, وَإِذَا قَامَ مِنَ الْجُلُوسِ: اللَّهُ أَكْبَرُ. ثُمَّ يَقُولُ إِذَا سَلَّمَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لَأَشْبَهُكُمْ صَلَاةً بِرَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم. رَوَاهُ النَّسَائِيُّ وَابْنُ خُزَيْمَةَ.

Aku shalat dibelakang Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, lalu beliau membaca: “Bismillahirrahmanirrahim”, kemudian membaca Ummul Qur’an (Al-Fatihah) hingga beliau sampai pada: “Wa laddhoolliin”, beliau memgucapkan; “Aamiin”, Dan setiap kali beliau sujud dan bangun dari duduk beliau mengucapkan; “Allahu akbar”. Kemudian ketika selesai salam beliau berkata; “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya sesungguhnya aku adalah orang yang sholatnya paling mirip dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diantara kalian. (HR. An-Nasa’I dan Ibnu Khuzaimah). (Bulughul Maram: 293)

Dan dalil yang menunjukkan bahwa Basmalah dibaca secara Sirr diantaranya hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim, dan juga Imam Ahmad, An-Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah yang disebutkan oleh Ibnu Hajar didalam kitabnya Bulughul Maram, dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu:

«أَنَّ النَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ كَانُوا يَفْتَتِحُونَ الصَّلَاةِ بِـ (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ) » مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ. زَادَ مُسْلِمٌ: لَا يَذْكُرُونَ: (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) فِي أَوَّلِ قِرَاءَةٍ وَلَا فِي آخِرِهَا. وَفِي رِوَايَةٍ لِأَحْمَدَ, وَالنَّسَائِيِّ وَابْنِ خُزَيْمَةَ: لَا يَجْهَرُونَ بِبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ. وَفِي أُخْرَى لِابْنِ خُزَيْمَةَ: كَانُوا يُسِرُّونَ.

“Bahwasanya dahulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar mereka mengawali bacaan shalatnya dengan “Alhamdulillahi Robbil ‘alamin”. (Muttafaqun ‘alaih). Muslim menambahkan : “ Mereka tidak membaca “Bismillahirrahmanirrahim” pada awal bacaan dan tidak pula di akhirnya.” Dan dalam riwayat Imam Ahmad, An-Nasa’i serta Ibnu Khuzaimah: “Mereka tidaklah mengeraskan bacaan “Bismillahirrahmanirrahim”. Dan dalam riwayat Ibnu khuzaimah yang lainnya: “Dahulu mereka membacanya secara Sirr.” (Bulughul Maram: 292)

Dan juga hadits yang diriwayatkan oleh Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu ‘anha;

« كان رسول الله صلى الله عليه وسلم «يستفتح الصلاة بالتكبير والقراءة بالحمد لله رب العالمين» . متفق عليه.

“Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka sholatnya dengan takbir dan bacaanya dengan “Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin.” (Muslim: 498)

Dan pendapat ini juga dikuatkan oleh Hadits Qudsiy yang diriwayatkan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

” قال الله تعالى: قسمت الصلاة بيني وبين عبدي نصفين، ولعبدي ما سأل، فإذا قال العبد: {الحمد لله رب العالمين} ، قال الله تعالى: حمدني عبدي، وإذا قال: {الرحمن الرحيم}، قال الله تعالى: أثنى علي عبدي، وإذا قال: {مالك يوم الدين}، قال: مجدني عبدي ، فإذا قال: {إياك نعبد وإياك نستعين} قال: هذا بيني وبين عبدي، ولعبدي ما سأل، فإذا قال: {اهدنا الصراط المستقيم صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين} قال: هذا لعبدي ولعبدي ما سأل. ”

“Allah Ta’ala berfirman: Aku membagi shalat(Al-Fatihah) menjadi dua bagian, yaitu antara diri-Ku dan antara hamba-Ku, dan untuk hamba-Ku apa yang dia minta, maka ketika hamba-Ku mengucapkan: Alhamdulillahi rabil ‘alamin (segala puji hanya milik Allah Rabb semesta alam), Allah berfirman: Hamba-Ku memuji-Ku. Dan ketika ia mengucapkan: Arrahmanirrahiim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang), Allah berfirman; Hamba-Ku menyanjung-Ku. Dan ketika ia mengucapkan: Maliki yaumiddiin (Yang Menguasai hari pembalasan), Allah berfirman: Hamba-Ku mengagungkan-Ku. Lalu ketika ia mengucapkan: Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin (hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan), Allah berfirman: ini antara-Ku dan antara hamba-ku dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta. Lalu ketika ia mengucapkan: Ihdinasshirathal mustaqiim shirathalladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhuubi ‘alaihim wa laddhoolliin (tunjukkanlah kepadaku jalan yang lurus, yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat, bukan jalannya orang yang dimurkai dan bukan jalannya orang yang sesat), Allah berfirman: Ini untuk hamba-Ku dan untuk hamba-Ku apa yang dia minta.” (HR. Muslim: 395)

Ibnu Qudamah juga menyebutkan hadits-hadits diatas didalam kitabnya Al-Mughni, kemudian beliau berkomentar:

وهذا يدل على أنه لم يذكر ” بسم الله الرحمن الرحيم “، ولم يجهر بها. وحديث أبي هريرة الذي احتجوا به ليس فيه أنه جهر بها، ولا يمتنع أن يسمع منه حال الإسرار، كما سمع الاستفتاح والاستعاذة من النبي – صلى الله عليه وسلم – مع إسراره بهما، وقد روى أبو قتادة، «أن النبي – صلى الله عليه وسلم – كان يسمعهم الآية أحيانا في صلاة الظهر» . متفق عليه

“Dan ini menunjukkan bahwa Beliau –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– tidak menyebutkan bacaan “Bismillahirrahmaanirrahiim” dan beliau tidak membacanya secara Jahr. Adapun hadits Abu Hurairah yang mereka berdalil dengannya, tidaklah menunjukkan bahwa Beliau –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– membacanya secara Jahr, dan hal itu tidaklah menutup kemungkinan bahwa (Abu Hurairah) mendengar dari Beliau –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– ketika membacanya secara Sirr, sebagaimana mendengar doa istiftah dan isti’adzah dari Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– sedangkan keduanya dibaca secara Sirr. Dan sungguh Abu qotadah telah meriwayatkan; “Bahwa dahulu Nabi –Shallallahu ‘alaihi wa sallam– ketika shalat dhuhur terkadang memperdengarkan bacaan ayat kepada mereka.” (Muttafaqun ‘alaih)

Beliau juga menerangkan:

وسائر أخبار الجهر ضعيفة؛ فإن رواتها هم رواة الإخفاء، وإسناد الإخفاء صحيح ثابت بغير خلاف فيه، فدل على ضعف رواية الجهر، وقد بلغنا أن الدارقطني قال: لم يصح في الجهر حديث.

“Dan seluruh hadits yang mengkabarkan tentang jahr adalah hadits Dhaif (lemah); karena perawinya adalah perawi hadits membaca secara pelan, dan sanad (jalur riwayat hadits) membaca secara pelan adalah sanad yang shahih tanpa ada perselisihan didalamnya, maka hal itu menunjukkan lemahnya perawi bacaan Jahr. Dan sungguh telah sampai kepadaku bahwa Ad-Daruquthni berkata: “tidaklah terdapat satupun hadits shahih didalam mengeraskan (bacaan basmalah).” (Al-Mughni: 1/346)

Berkata Syaikh Utsaimin:

القول الراجح أن البسملة ليست من الفاتحة فلا يجهر بها في الجهرية

“pendapat yang rajih adalah bahwa Basmalah bukanlah termasuk dari Al-fatihah dan ketika sholat jahriyah tidaklah dibaca secara Jahr.”( http://iswy.co/e3mbf )

Dan inilah pendapat Syaikh Al-Albani, beliau berkata:

ثم يقرأ: (بسم الله الرحمن الرحيم) ولا يجهر بها.

“Kemudian membaca (Bismillahirrahmanirrahim) dan tidak mengeraskannya.” (Shifatu shalatin nabi : 84)

Begitu juga syaikh Abdul Aziz Bin baz:

والسنة الإسرار بها وعدم الجهر بها؛ اقتداءً بالنبي عليه الصلاة والسلام، لكن إذا فعلها بعض الأحيان، ليعلم الناس أنها تقرأ، يعلم من حوله أنها تقرأ فلا بأس بذلك جهراً خفيفاً،

“Dan sunnahnya dibaca secara Sirr dan tidak mengeraskannya, hal ini dalam rangka mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi jika sewaktu-waktu mengeraskannya untuk memberitahu orang lain dan orang yang berada disekitarnya bahwa dia membacanya, maka tidaklah mengapa untuk mengeraskannya sedikit saja.” ( https://binbaz.org.sa/fatwas/10818/ حكم–الجهر–بالبسملة–في–الصلاة)

Pendapat ini juga difatwakan oleh Al-Lajnah Ad-Da’imah (komisi fatwa kerajaan Saudi Arabia):

دلّت السنة الثابتة أنه صلى الله عليه وسلم يقرأ البسملة في الصلاة قبل الفاتحة وقبل غيرها من السور ، ما عدا سورة التوبة، لكنه كان لا يجهر بها في الصلاة الجهرية صلى الله عليه وسلم.

“Sunnah yang shahih menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Basmalah didalam shalatnya sebelum Al-Fatihah dan surat lainnya kecuali surat At-Taubah, akan tetapi beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengeraskannya pada sholat Jahriyah (yang bacaannya dikeraskan).” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah : 6/378)

Inilah sekilas yang dapat kami nukilkan dalam pembahasan ini, dan sebenarnya pembahasan dalam bab ini amat sangat luas, sehingga Ibnul Qoyyim berkata;

وهذا موضع يستدعى مجلدا ضخما

“dan ini adalah tema yang memerlukan berjilid-jilid pembahasan yang amat besar.”

Demikian, semoga yang telah kami sebutkan diatas dapat menjawab apa yang telah ditanyakan.

WaAllahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Idwan Cahyana, Lc

Mohon penjelasan tentang hadist menyelenggarakan menyolatkan jenazah yg pahalanya 2 qiroth, terimakasih…

Sri Ummu Ilyas, di Tegalwaton Semarang.

Jawaban:

Bismillah walhamdulillah was sholaatu wassalam’ala Rasulillah wa ba’du.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى عَلَى جَنَازَةٍ فَلَهُ قِيرَاطٌ وَمَنْ اتَّبَعَهَا حَتَّى تُوضَعَ فِي الْقَبْرِ فَقِيرَاطَانِ قَالَ قُلْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ وَمَا الْقِيرَاطُ قَالَ مِثْلُ أُحُدٍ

“Barangsiapa mensholatkan jenazah, maka baginya pahala satu qirath, dan siapa yang mengantarnya hingga jenazah itu di letakkan di liang kubur, maka baginya pahala dua qirath.”

“Ya Abu Hurairah, seperti apakah dua qirat itu?” Tanyaku.

Beliau menjawab, “Seperti gunung Uhud.” (HR. Muslim)

Hadis di atas jelas menunjukkan bahwa pahala :

[1]. Sholat jenazah adalah satu qirath.

[2]. Sholat dan menghadiri proses pemakaman, dua qirath.

Namun, ada dua catatan penting harus kita kaji:

Pertama, syarat pahala satu qirath untuk yang mensholatkan Jenazah.

Sebagian ulama mensyaratkan, pahala satu qirath dari mensholatkan jenazah dapat diperoleh jika seorang mensholatkan dan berdiam layat di rumah duka, sampai jenazah diantar ke pemakaman. Kesimpulan ini berdasarkan hadis riwayat Muslim dari sahabat Khobab –radhiyallahu’anhu-, yang mana dalam hadis ini satu qirath disyaratkan demikian,

من خرج مع جنازة من بيتها

Siapa yang keluar bersama jenazah dari rumah dukanya…

Namun yang tepat dalam hal ini, tidak disyaratkan demikian, pahala satu qirath, cukup didapat dengan mensholatkan saja.

Meskipun akan berbeda satu qirath yang didapat oleh orang yang mensholati jenazah saja, dengan yang sholat jenazah dan menunggu di rumah duka sampai jenazah di antar ke pemakaman.

Sebagaimana ditegaskan oleh Imam Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah,

والذي يظهر لي : أن القيراط يحصل أيضا لمن صلى فقط ، لأن كل ما قبل الصلاة وسيلة إليها ، لكن يكون قيراط من صلى فقط دون قيراط من شيّع مثلا وصلى ، ورواية مسلم عن أبي هريرة بلفظ : ( أصغرهما مثل أحد ) يدل على أن القراريط تتفاوت

Yang tampak kuat bagiku adalah, pahala satu qirath cukup didapatkan dengan mensholati saja. Karena segala kegiatan sebelum sholat, itu hanya sarana untuk mensholati jenazah. Namun, satu qirath yang didapat oleh orang yang hanya mensholatkan, berbeda dengan satu qirath orang yang didapat oleh orang sholat dan melayat di rumah duka sampai Jenazah di antar ke pemakaman. Dalam hadis riwayat Muslim diterangkan

أصغرهما مثل أحد

Satu qirath itu seperti gunung yang besar, yang kecil seperti gunung Uhud.

Menunjukkan bahwa pahala qirath, bertingkat – tingkat. (Fathul Bari, 4/101)

Kedua, sekedar mengahdiri proses pemakaman, tanpa mensholati, apakah dapat dua qirath?

Jika kita perhatikan hadis di atas, pahala dua qirath tidak cukup didapat hanya dengan menghadiri proses pemakaman. Namun untuk mendapatkannya, disyaratkan melakukan tiga hal berikut:

[1]. Mensholati Jenazah.

Hanya mengahdiri proses pemakaman atau mengantar saja tanpa mensholati, tidak akan mendapat pahala dua qirath. Meskipun insyaallah tetap mendapat pahala sesuai dengan niatnya.

[2]. Mengantar ke pemakaman.

Disebut mengantar, jika seorang berjalan ke makam bersama jenazah dan pelayat lainnya. Adapun jika seorang hanya sendiri ke pemakaman, maka dia tidak mendapatkan pahala dua qirath.

[3]. Menghadiri pemakaman.

Ada beberapa riwayat menerangkan sampai kapan harus hadir di proses pemakaman agar genap mendapatkan dua qirath;

حتى يفرغ منها

Sampai prosesi pemakaman selesai.

حتى توضع في اللحد

Sampai jenazah dimasukkan ke liang lahat.

Kedua hadis di atas adalah riwayat Imam Muslim.

Kesimpulan dari keterangan dua riwayat di atas: pahala dua qirath, akan didapat oleh seseorang yang mensholati, mengantar dan menghadiri proses pemakaman sampai kadar yang disebutkan dalam riwayat-riwayat di atas. Hanya saja, akan berbeda dua Qirath yang didapatkan oleh seorang yang hadir di proses pemakaman sampai mayat diletakkan di liang lahat, dengan yang hadir sampai prosesi pemakaman benar- benar selesai, pahala qirath yang dia dapat lebih besar. Demikian seperti yang telah dijelaskan, bahwa pahala qirath itu bertingkat-tingkat. (Lihat : Fathul Bari, 4/102)

Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan,

ومقتضى هذا أن القيراطين إنما يحصلان لمن كان معها في جميع الطريق حتى تدفن ، فإن صلى مثلا وذهب إلى القبر وحده فحضر الدفن لم يحصل له إلا قيراط واحد

Hadis tersebut menunjukkan, bahwa pahala dua qirath dapat diperoleh oleh orang yang mengantarkan jenazah sampai proses penguburan. Seandainya seorang sholat jenazah, kemudian pergi ke kuburan sendirian, lalu hadir di acara pemakaman, maka dia hanya mendapatkan pahala satu qirath. (Dikutip dari : Fathul Bari, 4/101)

Sehingga tiga hal di atas harus terkumpul untuk mendapatkan dua qirath. Hal ini seperti yang disebutkan dalam hadis yang menerangkan tentang pahala sholat semalam suntuk,

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ وَمَنْ صَلَّى الفجر فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قام اللَّيْلَ كُلَّهُ

Siapa mengerjakan sholat Isya berjama’ah, seakan-akan dia telah sholat setengah malam. Siapa yang sholat subuh berjama’ah, seakan-akan dia telah melakukan sholat semalam penuh. (HR. Muslim)

Artinya, pahala sholat semalam penuh akan didapat, saat seorang melakukan sholat isya dan subuh secara berjama’ah. Berjama’ah Isya saja atau subuh saja, tidak mendapatkan pahala sholat semalam penuh.

Demikian…
Wallahua’lam bis showab.

***

Dijawab oleh Ustadz Ahmad Anshori
(Alumni Universitas Islam Madinah, Pengajar di PP Hamalatul Qur’an Yogyakarta)

 

Jika kita shalat, lalu mendengar atau melihat kejadian yang lucu, kemudian kita tersenyum, apakah shalat kita batal? mohon penjelasannya…

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Allah ta’ala menjanjikan kebaikan bagi mereka yang shalat dengan khusyu’. Allah berfirman,

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُون – الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُون

“Sungguh berbahagia orang yang beriman – yaitu orang yang khusyu dalam shalatnya.” (QS. al-Mukminun: 1-2)

Allah menjelaskan bahwa khusyu bagian dari ciri orang mukmin yang baik, yaitu mukmin yang mendapatkan keberuntungan. Karena itulah, setiap peluang yang bisa menghilangkan khusyu’, harus disingkirkan.

Dan seperti yang kita pahami bahwa tersenyum termasuk perbuatan yang bertentangan dengan khusyu’ dalam shalat. Hanya saja, khusyu 100% hukumnya tidak wajib. Karena dalam banyak kejadian, terkadang Nabi ﷺ terganggu ke-khusyu’an beliau ketika shalat. Meskipun beliau tetap lanjutkan shalat hingga selesai dan tidak diulang.

Selanjutnya,

Apakah tersenyum membatalkan shalat?

Jumhur ulama menegaskan bahwa senyum tidak membatalkan shalat. Karena senyum tidak mengeluarkan suara, sehingga tidak terhitung sebagai berbicara.

Dalam Ensiklopedi Fiqh dinyatakan,

أما الضحك بغير صوت وهو التبسم، فلا تفسد الصلاة به عند جمهور الفقهاء لأنه لم يحدث فيها كلام

Tertawa tanpa suara, yaitu tersenyum, tidak membatalkan shalat menurut mayoritas ulama. Karena orang ini tidak berbicara. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 28/174).

Keterangan lain, bisa kita jumpai di beberapa referensi, diantaranya,

[1] Keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,

أما التبسم فلا يبطل الصلاة وأما إذا قهقه في الصلاة فإنها تبطل ولا ينتقض وضوءه عند الجمهور كمالك والشافعي وأحمد

Tersenyum ketika shalat tidak membatalkan shalat. Sedangkan tertawa dalam shalat, maka membatalkan shalat, namun tidak membatalkan wudhunya menurut jumhur ulama, seperti Imam Malik, Imam as-Syafii, dan Imam Ahmad. (Majmu’ Fatawa, 22/614).

[2] Keterangan Ibnu Qudamah

قال ابن المنذر : أجمعوا على أن الضحك يفسد الصلاة وأكثر أهل العلم على أن التبسم لا يفسدها

Ibnul Mundzir mengatakan, ‘Ulama sepakat bahwa tertawa membatalkan shalat. Sementara mayoritas ulama berpendapat bahwa tersenyum tidak membatalkan shalat.’ (al-Mughni, 1/741).

[3] Keterangan an-Nawawi

والتبسم في الصلاة: مذهبنا ان التبسم لا يضر وكذا الضحك ان لم يبن منه حرفان فان بان بطلت صلاته

Masalah senyum dalam shalat. Pendapat kami (ulama Syafi’iyah) bahwa tersenyum tidak mempengaruhi keabsahan shalat. Demikian pula tertawa, selama tidak sampai keluar 2 huruf. Jika keluar kata (dua huruf) maka batal shalatnya. (al-Majmu’, 4/89).

Kita membahas sisi batal dan tidaknya. Bahwa tersenyum tidak membatalkan shalat. Hanya saja, mengurangi kesempurnaan shalat.

Selanjutnya, bagi orang yang tersenyum dalam shalat, bisa lanjutkan shalatnya dan berusaha fokus dalam shalat, sehingga tidak terpengaruh dengan semua yang mengganggu di sekitarnya.

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)

 

Jika kita lupa beberapa kali dalam shalat, apakah kita harus sujud sahwi berkali-kali? Misalnya, lupa tidak tasyahud awal dan lupa jumlah rakaat.

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada dua hal yang perlu dipahami sebelum menjawab pertanyaan:

[1] Bahwa semua sujud sahwi terdiri dari 2 kali sujud dan satu kali duduk yang memisahkan keduanya. Kita sebut ini sebagai satu paket sujud sahwi.

[2] Sebab utama sujud sahwi adalah lupa dalam shalat, seperti lupa tasyahud awal atau melakukan tindakan di luar shalat karena lupa, seperti berbicara di luar shalat.

Selanjutnya, untuk menjawab pertanyaan, kami sebutkan sebuah hadis yang bercerita tentang kejadian sujud sahwi yang pernah dilakukan Nabi ﷺ.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah menceritakan,

“Rasulullah ﷺ mengimami kami salah satu shalat siang, Zhuhur atau Ashar. Ketika pada rakaat kedua, beliau salam. Lalu beliau pergi menuju sebatang pohon kurma di arah kiblat masjid. Sementara di antara jamaah ada Abu Bakar dan Umar, namun keduanya takut berkomentar. Dan para jamaah yang punya urusan sudah keluar sambil mengatakan, “Shalatnya diqoshor.” Hingga datag sahabat yang bergelar Dzul Yadain mendekati Nabi ﷺ dan bertanya,

“Ya Rasulullah, apakah shalat diqashar ataukah anda lupa?”

Nabi ﷺ menengok ke kanan kirinya,

“Betulkan apa yang dikatakan oleh Dzul Yadain?”

Jawab mereka, “Betul, Ya Rasulullah. Anda shalat hanya dua rakaat.”

“Lalu beliau nambahi dua rakaat lagi sampai salam. Lalu beliau sujud sahwi dua kali, dipisah dengan duduk sebentar. (HR. Bukhari 1229 dan Muslim 1316).

Dalam hadis di atas, Nabi ﷺ melakukan beberapa hal yang semuanya bisa menjadi sebab disyariatkannya sujud sahwi. Namun beliau hanya melakukan satu paket sujud sahwi, yaitu 2 kali sujud.

Ibnu Daqiq al-Id mengatakan,

فيه دليل على أن سجود السهو يتداخل ولا يتعد بتعدد أسبابه فإن النبي صلى الله عليه وسلم: سلم وتكلم ومشى وهذه موجبات متعددة واكتفى فيها بسجدتين وهذا مذهب الجمهور من الفقهاء.

Sujud sahwi itu digabung untuk semua sebab lupa dalam shalat dan tidak dilakukan sebanyak sebab lupanya. Karena Nabi ﷺ dalam kejadian itu, beliau berbicara, berjalan, dan ini semua menjadi beberapa sebab sujud sahwi, namun beliau hanya mencukupkan sujud sahwi 2 kali. Dan ini adalah pendapat jumhur ulama.

Kemudian Ibnu Daqiq al-Id melanjutkan,

ومنهم من قال: يتعدد السجود بتعدد السهو على ما نقله بعضهم ومنهم من فرق بين أن يتحد الجنس أو يتعدد وهذا الحديث دليل على خلاف هذا المذهب فإنه قد تعدد الجنس في القول والفعل ولم يتعدد السجود

Ada juga yang mengatakan, disyariatkan sujud sahwi beberapa kali, sesuai jumlah lupa yang ada dalam shalat. Ada juga yang membedakan, antara sebab sujud sahwi yang sama (cukup sekali sujud) dan sebab sujud sahwi yang berbeda (dianjurkan beberapa kali sujud). Dan hadis ini merupakan dalil terkait perbedaan pendapat ini, bahwasanya sebab sujud sahwi bisa saja banyak, baik bentuknya ucapan maupun perbuatan, namun sjud sahwi tetap dua kali. (Ihkam al-Ahkam, Syarh Umdatul Ahkam, Ibnu Daqiq al-Id, 1/182)

Dan pendapat pertama yang lebih mendekati kebenaran. Karena itu, sekalipun lupa terjadi beberapa kali dalam sekali shalat, sujud sahwi tetap satu paket..

Demikian, Allahu a’lam.

Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasisyariah.com)